Batu Bara Kalori Rendah Diolah Jadi Metanol, Indonesia Targetkan Hemat Devisa Rp7,1 Triliun
![]() |
| Metanol |
Ketergantungan Indonesia terhadap impor metanol berpotensi mulai dikurangi melalui proyek hilirisasi batu bara. Batu bara berkalori rendah yang selama ini memiliki nilai ekonomi lebih rendah akan diolah menjadi metanol untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.
Pemerintah mendukung Proyek Strategis Nasional (PSN) Gasifikasi Batu Bara menjadi Metanol yang dibangun di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Proyek tersebut ditargetkan mampu memproduksi sekitar 2 juta ton metanol setiap tahun dan berpotensi mengurangi pengeluaran devisa hingga Rp7,1 triliun per tahun.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, mengatakan proyek tersebut merupakan bagian dari strategi hilirisasi sumber daya alam untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat industri nasional.
Hal itu disampaikan saat peresmian groundbreaking proyek PSN Gasifikasi Batu Bara di Kutai Timur, Kalimantan Timur, seperti dikutip dari Listrik Indonesia, Selasa (1/9/2026).
Batu Bara Kalori Rendah Diubah Menjadi Produk Industri
Proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol ini dibangun di kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Pengembangan proyek dilakukan oleh PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan antara PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Pembangunan fasilitas tersebut akan memanfaatkan lahan sekitar 93 hektare. Melalui teknologi gasifikasi, batu bara berkalori rendah akan diproses dan diubah menjadi metanol yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai sektor industri.
Yuliot menilai pengembangan industri metanol berbasis batu bara menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.
“Groundbreaking ini menandai dimulainya langkah nyata pembangunan industri methanol berbasis hilirisasi batubara. Proyek ini merupakan bagian dari upaya kita untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional,” kata Yuliot.
Target Produksi Metanol Capai 2 Juta Ton per Tahun
Proyek tersebut dirancang untuk mengolah sekitar 7,70 juta hingga 7,78 juta ton batu bara setiap tahun. Batu bara yang digunakan memiliki nilai kalor sekitar 3.400 kcal/kg.
Hasil pengolahan nantinya berupa metanol dengan standar International Methanol Producers and Consumers Association (IMPCA) Grade.
Kapasitas produksi yang ditargetkan mencapai sekitar 2 juta ton metanol per tahun.
Produksi tersebut terutama diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri yang selama ini masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Data yang disampaikan dalam proyek tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih mengimpor sekitar 1,3 juta ton metanol pada 2025 dengan nilai mencapai Rp7,1 triliun.
Dengan hadirnya fasilitas produksi metanol domestik, pemerintah berharap ketergantungan terhadap produk impor dapat dikurangi.
Selain itu, proyek ini juga diharapkan memberikan dampak ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan industri pendukung, dan meningkatnya aktivitas ekonomi di wilayah sekitar.
Dilengkapi Teknologi Pengendalian Emisi dan CCS
Fasilitas gasifikasi batu bara di Kutai Timur nantinya tidak hanya terdiri dari unit pengolahan utama.
Proyek tersebut juga akan dilengkapi dengan berbagai infrastruktur pendukung, termasuk fasilitas gasifikasi, reaktor sintesis, pembangkit listrik, fasilitas pengolahan air, hingga terminal pelabuhan.
Teknologi yang digunakan juga dirancang terintegrasi dengan Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung pengendalian emisi.
Metanol yang dihasilkan nantinya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sejumlah sektor, terutama industri petrokimia dan formaldehida.
Selain itu, produk tersebut juga diarahkan untuk mendukung pengembangan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) serta program B50.
Dengan pengembangan tersebut, pemanfaatan batu bara tidak hanya diarahkan sebagai sumber energi untuk pembangkit listrik, tetapi juga sebagai bahan baku industri bernilai tambah.
Target Commissioning pada 2029
Presiden Direktur PT Bumi Etam Chemical, Rio Supin, mengatakan proyek saat ini telah memasuki tahap engineering.
Tahapan tersebut mencakup penyusunan Front-End Engineering Design (FEED) serta Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement.
Dalam pelaksanaannya, BEC bekerja sama dengan PT Istana Karang Laut (IKL) dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC). Kerja sama tersebut telah berlangsung sejak 29 Juli 2026.
Proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol ini ditargetkan memasuki tahap commissioning pada 2029.
Rio menyebut proyek tersebut diharapkan dapat mendukung agenda kemandirian dan ketahanan energi nasional.
Ke depan, proyek ini juga berpotensi menjadi salah satu model hilirisasi batu bara berkalori rendah. Pasalnya, sumber daya batu bara dengan karakteristik serupa tersedia di sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatera.
Melalui pengolahan menjadi produk industri seperti metanol, batu bara berkalori rendah diharapkan memiliki nilai tambah yang lebih besar sekaligus membantu memenuhi kebutuhan bahan baku industri dalam negeri.
